Badar Besi Kebumen Kekayaan Alam Yang Harus Dijaga
Tuesday, 31 March 2015 14:20Sudarto, seorang pecinta batu dari komunitas ‘Badar Besi” Kebumen menyebutkan bahwa tiap-tiap wilayah di Kebumen memiliki kandungan batu yang berbeda-beda. Wilayah Kecamatan Karangsambung dengan Sungai Luk Ulo nya, banyak menyimpan kandungan batu ginggang. Lalu wilayah Kecamatan Karanggayam, dengan Gunung Bulu Beras nya, banyak menyimpan kandungan batu badar besi. Dan perbukitan di wilayah Kecamatan Gombong juga dikenal memiliki kekayaan alam berupa batu lavender.
“Dari sekian jenis batuan asli Kebumen, batu badar besi, terutama yang merah cabe, memang paling dikenal. Bahkan batu jenis ini banyak diburu kolektor. Karena selain keindahan corak warnanya, kandungan mineral logamnya dipercaya bisa mempengaruhi system peredaran darah dalam tubuh. Sehingga orang yang memakainya akan senantiasa sehat,” jelas Sudarto yang ditemui LIBERTY di bengkel pengolahan batunya di kawasan Pasar Rabuk, Kebumen.
Sudarto adalah salah satu dari sekian banyak pengrajin batu badar besi yang saat ini harus kewalahan menerima pesanan batu yang juga disebut dengan istilah red magnet ini. Apalagi untuk menghasilkan sebuah batu yang indah, diperlukan ketelitian dan kecermatan dalam pengolahannya. Kesalahan sedikit dalam melakukan pemotongan ataupun pemolesan, akan menghasilkan batu dengan kualitas yang kurang bagus. Dan hal itu tentu berpengaruh pada nilai dari batu itu sendiri.
Karena itulah menurut Sudarto, untuk menghasilkan sebuah batu yang indah, berkualitas dan bernilai tinggi, proses pengerjaannya tidak bisa dibatasi oleh waktu. Dibutuhkan sebuah totalitas dalam berpikir dan berkreasi, yang tentunya hal itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Dan hal inilah yang selalu dipegang oleh Sudarto. Sehingga hasil olahan batu miliknya banyak diakui keunggulannya.
“Di sini yang kita utamakan adalah idealisme berkesenian, dan bukan sebatas urusan perut. Sehingga kesempurnaan dari sebuah hasil pekerjaan adalah tujuan utama. Ada sebuah kepuasan tersendiri saat kita bisa menciptakan sebuah karya batu yang benar-benar sempurna, baik itu dari ukuran, bentuk serta motif yang muncul. Makanya terkadang kami sampai menolak pesanan, dari mereka yang kurang sabar dan maunya cepat selesai,” terang Sudarto sembari sibuk memoles sebuah batu dengan alat poles miliknya.
Kesempurnaan karya cipta batu badar besi ini pula yang kemudian semakin membumbungkan nama batu asli Kebumen ini, di kalangan para pecinta batu. Bahkan kehadiran badar besi merah cabe juga disebut-sebut telah menggeser popularitas batu-batu dari daerah lain yang sudah terkenal, seperti bacan.
Makanya, tak salah bila kemudian para pecinta batu dari luar negeri juga banyak yang terus berburu batu yang satu ini. Dan salah satu pangsa terbesar dari batu ini adalah Korea, Jepang serta Belanda. Untuk Korea dan Jepang, kedua negara ini bahkan sudah lama mendatangkan batu badar besi merah dari Kebumen. Selain digunakan untuk hiasan, di sana batu-batu ini diolah dan dijadikan aksesoris kesehatan.
“Kalau di Korea, batu badar besi merah ini diubah menjadi gelang. Mereka punya mesin yang canggih. Yang mana begitu bongkahan batu dimasukkan, saat keluar sudah berbentuk gelang-gelang batu. Makanya orang-orang sana lebih suka membeli dalam bentuk bahan bongkahan. Sedangkan kalau orang Belanda terbilang baru. Dan mereka umumnya membeli dalam bentuk olahan yang sudah jadi. Karena memang tujuannya untuk aksesoris atau hiasan,” papar pria 42 tahun ini.
Hal ini pula yang membuat perburuan batu badar besi di alam semakin marak. Nilai ekonomis dari batu yang banyak tersimpan di punggung Bukit Bulu Beras ini mendorong masyarakat yang tinggal di sana tergiur untuk mengambilnya. Sehingga tiap hari puluhan orang akan terlihat memenuhi kawasan yang masuk wilayah Perhutani BKPH Karanganyar ini, untuk berburu batu badar besi.
Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Apalagi pola pikir para penambang yang cenderung pragmatis, tidak lagi memikirkan upaya untuk menjaga kelestarian alam di sekitar tempat penambangan. Mereka cenderung melakukan perusakan, dengan tidak lagi mereklamasi bekas galian batu yang sudah ditinggalkan. Sehingga kawasan pegunungan Bulu Beras benar-benar berubah menjadi kawasan yang hampir gundul di salah satu sisinya.
Papan larangan untuk melakukan pengrusakan dengan ancaman hukuman dan denda yang berat, di beberapa titik lokasi, agaknya tidak berdampak langsung pada perubahan sikap masyarakat penambang. Sehingga dari hari ke hari kerusakan bukit Bulu Beras bisa dikatakan semakin memprihatinkan.
“Kalau eksploitasi secara besar-besaran terus dilakukan dan perdagangan batu badar besi dalam bentuk bongkahan semakin marak di luar. Maka hal itu ke depan bisa mengancam eksistensi pengrajin batu di sini. Karena ujung-ujungnya kita akan kesulitan mendapatkan bahan baku yang bagus,” ungkap Sudarto yang juga didaulat sebagai wakil ketua Komunitas Badar Besi Kebumen.
Loading...


0 komentar:
Posting Komentar